“Pungli Berkedok Sumbangan” di SDN 21 Payakumbuh Viral. Kadisdikbud Meradang.

Payakumbuh.sumbar.auditpos.com- Dampak terekspose serta viralnya ” Pungli Berkedok Sumbangan” di SD an. 21 Labuh Baru Payakumbuh, diduga atas persetujuan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Payakumbuh, Agustion gerah dan meradang.

Buktinya, Senin, 7/10/18.32, Agustion melalui ponselnya mengirim pesan via WhatshApp kepada wartawan terkait ekspose “Pungli Berkedok Sumbangan” di SDN 21 Payakumbuh?, terkesan Kadisdikbud Kota Rendang sampaikan” Tolong lengkapi data yang benar sebelum di ekspose ke media. Jumlah anak yang 700 orang tidak semuanya ikut menyumbang, karena 1 orang tua ada yang punya anak 3 atau 4 atau 2 di sekolah tersebut. Intinya sekolah hanya mencari hutang mobil sekolah Rp.80 Juta, demikian pengakuan Kadisdikbud itu.

Juga tersirat Agustion restui dugaan Pungli yang dilakukan Kepsek SD N 21 Payakumbuh, Peri Anita tambahkan, “Ada orang tua yg tidak sanggup menyumbang tidak di paksa, ada yang sanggup Rp.50 ribu, ada yang sanggup Rp100 ribu, sebutnya.

Sedangkan pemberhentian Kepsek yang lama, Agustion tegaskan karena Mesrawati memasuki usia pensiun ( bukan dipaksa mundur).

Menurut Agustion, pihak terkesan merestui sumbangan tersebut, katanya hal pendanaan pendidikan merujuk PP No. 48 tahun 2008 – PP No. 17 tahun 2010 – Permendikbud No. 75 tahun 2016 ( tentang Komite Sekolah ), dan Perda Pendidikan kota Payakumbuh tahun 2017, berdalih.

Terkait statemen pembantu Walikota Payakumbuh, bidang pendidikan tersebut, bertolak belakang dengan mantan Kepala Sekolah Dasar ( SD ) Negeri 21 Kota Payakumbuh, Mesrawati rela berhutang Rp. 80 Juta, guna realisasikan Amanah eks siswanya era 2015-2016-2017 dan 2018 yang kumpulkan sumbangan sukarelanya terkumpul Rp.120 juta agar dibelikan bus sekolah, berbuntut ” Petaka” bagi 700 siswa, ujar Mesrawati.

Pasalnya, berdasarkan pengakuannya, seyogyanya dirinya pensiuan pada 1 Mei 2019 lalu, namun tiba- tiba, pada 28 Maret 2019 posisinya selaku Kepsek SDN 21 dicopot dan digantikan oleh Peri Anita, demikian ungkapnya.

Meskipun dirinya tidak kecewa serta protes, atas pencopotan dirinya, tapi sosok wanita brilian itu, sangat kecewa atas carut marutnya kondisi sekolah pasca ditinggalkannya.

Soalnya, pasca pencopotan dirinya selaku Kepsek SDN 21 Payakumbuh, 28 Maret 2019 terkait dirinya yang rela berhutang sejumlah Rp.80 juta guna realisasikan Amanah eks siswa era tahun 2015 – 2016 – 2017 dan 2018, yang kumpulkan sumbangan sukarelanya senilai Rp.120 Juta, berupa pengadaan satu unit Bus Sekolah meskipun bekas senilai Rp.200 Juta, diduga dijadikan ” Pungli Bertamengkan Sumbangan”, bagi Kepsek baru terhadap 700 orang siswanya.

Masih pengakuan Mesrawati, diakuinya agar dana dari pinjaman pribadinya senilai Rp.80 juta guna tambahan pembelian satu unit Bus Sekolah tersebut bisa kembalikan sekolah dibawah kendali Peri Anita, konon setelah dapat restu Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Payakumbuh, Agustion diduga tetapkan setiap murid diwajibkan senilai Rp.200.000, akibatnya banyaknya Wali murid yang protes, ujarnya.

Meskipun, awalnya Mesrawati pernah ajukan keberatan atas kebijakan Peri Anita, dan sarankan agar dana talangan tersebut diupayakan melalui Koperasi, namun terkesan tidak digubris, ujarnya.

Dilain tempat, Ady Surya, SH, MH, Pemerhati Hukum dan Pendidikan Sumateta Barat, menyikapi dugaan carut marutnya pemangku kebijakan, khususnya pungutan yang dikemas sumbangan dan bantuan pendidikan. Artinya pungutan di sekolah yang tidak memiliki dasar hukum, menghimbau Satuan Tugas ( Satgas) Pungutan Liar ( Pungli) dibawah komando Polres Kota Payakumbuh bisa selidiki kegelisahan para orang tua murid, demikian pinta Ady. ( NB ).

Share This: